Pekerjaan Ini Justru Bertahan di Era AI Meski Dibilang Terancam Hilang

Microsoft baru saja merilis sebuah laporan yang menyoroti 40 jenis pekerjaan yang memiliki tingkat paparan tertinggi terhadap kecerdasan buatan generatif (generative AI). Dalam daftar tersebut, profesi yang paling rentan terdiri dari pekerjaan berbasis bahasa dan informasi, seperti penerjemah dan juru bahasa, serta sejarawan.

Selain itu, pekerjaan yang berkaitan dengan pengetahuan, seperti tugas-tugas dalam pengolahan data dan administrasi di kantor, juga termasuk di dalamnya. Terlebih lagi, pekerja di bidang penjualan menghadapi ancaman yang sama, mengingat tugas mereka sering melibatkan penerangan dan diskusi informasi dengan klien.

Meskipun laporan ini mengindikasikan potensi dampak AI, Microsoft menyatakan bahwa tidak semua pekerjaan dalam daftar tersebut akan sepenuhnya tergantikan oleh teknologi. Hal ini meninggalkan kekhawatiran di kalangan para profesional terkait masa depan pekerjaan mereka.

Analis Dampak AI terhadap Berbagai Pekerjaan

Berdasarkan penelitian Microsoft, profesi seperti penulis dan jurnalis juga terdaftar di antara pekerjaan yang paling terpengaruh oleh AI. Peran mereka memiliki dampak yang signifikan di dunia, meski alat AI mulai banyak digunakan dalam proses produksi berita.

Sebuah studi dari Nieman Lab menunjukkan bahwa sekitar 56% jurnalis di Inggris menggunakan AI setiap minggu. Hal ini menjadikan AI sebagai alat yang semakin umum dalam industri pers, membantu dalam penyusunan dan pendistribusian konten.

Meski berbagai alat seperti Gemini dan perangkat lunak lain berkontribusi pada peningkatan efisiensi, sejumlah jurnalis tetap melihat AI sebagai ancaman. Risiko disinformasi, masalah etika, dan potensi hilangnya pekerjaan menjadi perhatian utama yang dihadapi profesionals.

AI dalam Jurnalisme: Peluang dan Tantangan

Selama World Journalist Conference 2026 di Korea Selatan, tantangan dan peluang yang dihadapi industri jurnalisme terkait penerapan AI menjadi topik hangat. Dalam sesi diskusi, banyak analis dan jurnalis berbagi bagaimana mereka menggunakan alat AI dalam pekerjaan sehari-hari mereka.

Kaijun Zheng, seorang direktur di Xinhua News Agency, mengungkapkan bahwa organisasinya memanfaatkan 230 alat AI untuk meningkatkan efisiensi. Dengan penggunaan AI tools, Zheng merasa pekerjaan jurnalis menjadi lebih mudah dan memungkinkan mereka untuk lebih fokus pada aspek yang hanya dapat dilakukan manusia.

Namun, Zheng menyadari adanya tantangan yang dikenal sebagai ‘AI Slop’, di mana alat AI bisa menghasilkan kesalahan serius. Hal ini dapat menurunkan kredibilitas para jurnalis yang mengandalkan AI sebagai alat bantu, sehingga perlu adanya kesadaran akan risiko ini di kalangan profesional media.

Konsiderasi Etis dalam Penggunaan AI

Dalam pembahasan mengenai pemanfaatan AI, masalah hak cipta muncul sebagai isu krusial. Zheng menyoroti bahaya di mana AI dapat merangkum dan mengutip karya jurnalis tanpa memberikan kredit yang layak, memicu pertanyaan etis dan legal yang serius.

Sebagai respons terhadap situasi ini, penting bagi jurnalis dan pembuat kebijakan untuk merumuskan regulasi yang lebih kuat terkait hak cipta. Hal ini dilakukan untuk melindungi karya intelektual di tengah perkembangan teknologi yang pesat.

Ketika teknologi berkembang, muncul juga pertanyaan tentang keahlian jurnalis yang mungkin tergantikan oleh algoritma. Meski begitu, Zheng merasa bahwa tugas-tugas yang melibatkan interaksi langsung dengan narasumber tetap tidak akan bisa tergantikan oleh mesin.

Inovasi AI di Perusahaan Media Modern

Woo Seung Ho, Wakil Direktur Seoul Economic Daily, berbagi pengalaman mengenai penggunaan AI di perusahaan tempatnya bekerja. Mereka telah mengembangkan empat mesin AI yang membantu dalam berbagai aspek jurnalistik, mulai dari manajemen konten hingga penerjemahan dan visualisasi data.

Salah satu mesin AI yang mereka ciptakan, yaitu AI NOVA, berfungsi dalam drafting dan proofreading, sementara mesin lainnya, seperti AI WAVE, mengonversi teks menjadi video. Penggunaan mesin ini mengurangi beban kerja jurnalis dan memaksimalkan produktivitas.

Meski ada perdebatan tentang keefektifan instrumen AI tersebut, Seung Ho menemukan bahwa tantangan yang sebenarnya terletak pada adaptasi pengguna. Beberapa jurnalis merasa kesulitan untuk mengintegrasikan teknologi baru ke dalam rutinitas mereka.

Di tengah kekhawatiran akan kehilangan pekerjaan akibat AI, penting bagi industri media untuk berfokus pada integrasi teknologi yang dapat membantu tugas jurnalis tanpa menggantikan esensi pekerjaan mereka. Dengan pendekatan yang tepat, penggunaan alat AI dapat membantu meningkatkan kualitas jurnalisme sembari mempertahankan keunikan manusia dalam proses pengambilan berita.

Related posts