18 Warga Buleleng Digigit Anjing Diduga Terjangkit Rabies

Di Kelurahan Banyuning, Kabupaten Buleleng, Bali, sekelompok warganya mengalami kejadian mengerikan: sebanyak 18 orang digigit oleh seekor anjing yang diduga terinfeksi rabies. Peristiwa tersebut terjadi pada hari Kamis dan langsung mendapatkan penanganan medis yang cepat untuk mencegah penyebaran lebih lanjut virus berbahaya ini.

Kepala Seksi Pemerintahan Kelurahan Banyuning, Putu Mahendra, menyampaikan bahwa semua korban segera dilarikan ke fasilitas kesehatan terdekat untuk mendapatkan vaksinasi dan perawatan lainnya. Informasi mengenai kejadian ini awalnya tersebar melalui media sosial, dan setelah ditindaklanjuti, pihaknya segera melakukan pengecekan di lokasi kejadian.

Dari hasil investigasi, diketahui bahwa anjing yang mengamuk tersebut menggigit warga di beberapa lokasi strategis dalam wilayah tersebut, seperti Jalan Pulau Samosir dan Jalan Pulau Komodo. Selain itu, anjing tersebut diidentifikasi sebagai anjing campuran dengan ukuran tubuh kecil hingga sedang, kemungkinan besar merupakan hewan peliharaan.

Kronologi Kejadian Gigitan Anjing di Buleleng

Putu Mahendra menjelaskan secara rinci mengenai kronologi kejadian gigitan anjing yang membuat heboh warganya. Ia mencatat bahwa kejadian mulai dilaporkan sejak pagi hari dan terus meningkat jumlahnya hingga malam hari.

Dari penelusuran, anjing yang mengamuk terlihat di berbagai titik, menggigit warga secara acak. Petugas masih berusaha mencari anjing tersebut, namun hingga kini, usaha pencarian belum membuahkan hasil.

“Kami telah mencari dari pagi, namun anjing itu belum ditemukan. Kami akan melanjutkan pencarian bersama masyarakat setempat,” ungkap Mahendra. Dia menekankan pentingnya kolaborasi dengan warga untuk menemukan sumber permasalahan ini.

Langkah Penanganan Medis untuk Para Korban

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Buleleng, Sucipto, menjelaskan bahwa semua korban gigitan anjing sudah mendapatkan vaksin anti rabies (VAR). Hal ini dilakukan untuk mencegah gejala rabies yang dapat berakibat fatal jika tidak segera ditangani.

“Kami sangat bersyukur karena tidak ada korban yang masuk dalam kategori risiko tinggi, semua sudah divaksin,” jelas Sucipto. Ia juga menyampaikan bahwa anjing yang menyerang adalah hewan liar dan perlu dikhawatirkan untuk keselamatan warga.

Dua di antara korban adalah anak-anak berusia 10 tahun dan 5 tahun, yang juga menerima perawatan di Puskesmas terdekat. Sucipto menambahkan bahwa sebagian besar gigitan terjadi di bagian kaki dan tangan, yang umumnya lebih rentan terhadap serangan hewan.

Pentingnya Kesadaran dan Tindakan Preventif Terhadap Rabies

Kejadian ini menyoroti perlunya kesadaran masyarakat terkait bahaya rabies, terutama di daerah dengan kasus gigitan hewan yang meningkat. Rabies adalah penyakit yang sangat berbahaya dan dapat berakhir mematikan jika tidak diberikan penanganan dengan cepat.

Oleh karena itu, Dinas Kesehatan setempat mengimbau masyarakat untuk lebih waspada terhadap hewan peliharaan dan melaporkan setiap kali menemukan anjing atau kucing liar yang menunjukkan perilaku agresif. Pembinaan mengenai vaksinasi rabies untuk hewan peliharaan juga sangat direkomendasikan.

Untuk itu, masyarakat harus lebih proaktif dalam pencegahan dan penanganan gigitan anjing. Upaya kolaborasi antara pemerintah dan warga sangat penting untuk mengurangi risiko penularan penyakit ini di masyarakat.

Related posts