Air mata Nadia Putri Muda Paramita tidak bisa dibendung saat mengikuti seleksi Olimpiade Sains Nasional (OSN) untuk tingkat SD secara online. Siswi kelas 5 SDN Gandasoli, Kecamatan Cireunghas, Kabupaten Sukabumi ini harus menguburkan impiannya karena listrik di rumahnya mati mendadak saat ujian berlangsung.
Keputusan tersebut mengundang empati di dunia maya, terutama setelah insiden yang mengecewakan ini terjadi pada tanggal 8 Juni lalu. Usaha untuk meraih medali emas dalam ajang bergengsi ini terasa mustahil akibat kendala teknis yang tidak terduga.
Pengawas OSN di SDN Gandasoli, Isop Sopiah, menjelaskan bahwa ujian berlangsung lancar sejak sesi pertama hingga sesi terakhir yang dijadwalkan pukul 13:00-14:00 WIB. Namun, ketika waktu tersisa 15 menit, aliran listrik tiba-tiba terputus, menambah derita Nadia dan teman-temannya.
Insiden Listrik Putus Menghancurkan Mimpi Nadia
Isop mengatakan, pada menit-menit akhir ujian, siswa mulai melaporkan bahwa layar mereka mengalami gangguan. Situasi semakin memburuk ketika aliran listrik padam, meninggalkan Nadia dan teman-teman lainnya dalam kegelapan. Waktu ujian terus berjalan, sementara mereka tidak dapat mengakses soal yang harus dikerjakan.
Setelah menunggu selama tiga jam tanpa adanya perubahan, pihak sekolah memutuskan untuk meminta siswa menutup laptop dan pulang. Kejadian ini tidak hanya mengecewakan siswa, tetapi juga mengganggu proses belajar mereka secara keseluruhan.
Kekhawatiran Isop terkait pemadaman listrik ini juga diungkapkan, di mana tidak adanya notifikasi dari pihak PLN membuat sekolah tidak memiliki persiapan. Hal tersebut sangat disayangkan dan seharusnya menjadi pelajaran untuk masa depan agar kejadian serupa tidak terulang lagi.
Pengalaman Memalukan dan Ketidakpuasan
Dari 60 soal yang harus dijawab, Nadia sudah berhasil menyelesaikan 40 soal. Persiapan yang dilakukannya selama enam bulan tak mampu menghapus rasa sakit dan ketidakpuasan akibat gangguan ini. Ia berbagi cerita bagaimana ia panik luar biasa saat menyadari bahwa waktu terus berjalan dan layar laptopnya mati.
Perasaannya yang campur aduk sangat wajar, mengingat harapannya untuk membanggakan orang tua dan meraih cita-cita sebagai diplomat. “Saya ingin menjadi diplomat dan berharap dapat memberikan kebanggaan kepada orang tua. Sudah mempersiapkan semua dari jauh-jauh hari,” tuturnya dengan nada sedih.
Ketidakpastian di masa seperti ini sangat membuatnya resah. Ia berharap agar panitia pusat dapat menggelar ujian ulang bagi siswa yang mengalami gangguan serupa, sehingga mereka tidak dirugikan akibat faktor teknis di luar kendali mereka.
Harapan Untuk Penanganan Kejadian Di Masa Depan
Dalam situasi sulit ini, Nadia tetap berusaha tegar meskipun harapannya untuk ujian ulang masih menggelayuti jiwanya. “Kalau bisa diulang, ya itu lebih baik, tapi jika tidak, saya akan ikhlas,” tuturnya sambil menahan air mata.
Ia berharap, ke depannya, pihak PLN bisa memberitahukan sebelumnya jika ada pemadaman listrik. Hal ini sangat penting agar siswa dapat mempersiapkan diri lebih baik dan tidak mengalami hal yang sama di masa depan.
Dalam setiap langkah yang Nadia ambil, ada pelajaran berharga yang bisa diambil oleh semua pihak. Situasi yang dihadapi Nadia mencerminkan sebuah tantangan yang tak hanya dihadapinya tetapi juga bisa dialami oleh siswa lainnya.
