Busana Mengkilap Jemaah Haji dari Gowa

Bupati Gowa, Husnia Talenrang, mengungkapkan rasa kagumnya saat menyambut kedatangan jemaah haji kelompok terbang (kloter) 5 di Asrama Haji Sudiang, Makassar, Sulawesi Selatan. Pemandangan yang mencolok terlihat dari busana jemaah yang penuh warna dan detail, menambah kehangatan suasana penyambutan.

Pada Jumat (5/6), 392 jemaah dari Tanah Suci tiba sekitar pukul 07.35 WITA, meskipun sedikit terlambat dari jadwal yang telah ditentukan. Husnia menyatakan bahwa momen ini merupakan kebahagiaan bagi keluarga dan masyarakat, sekaligus menandai kembalinya mereka ke rumah dengan selamat.

“Hari ini bukan hanya keluarga yang senang, tetapi saya selaku pemerintah daerah dan pribadi merasa bangga dan bahagia menyambut kedatangan bapak ibu sekalian kembali di rumah,” ungkap Husnia dalam sambutannya.

Penyambutan Hangat di Asrama Haji Sudiang Makassar

Jemaah kloter 5 yang tiba di Asrama Haji Sudiang mengenakan busana khas ‘bling-bling’ yang telah mereka siapkan sebelum berangkat ke Tanah Suci. Busana tersebut, yang dikenal dengan kesan glamor, terlihat serasi dengan suasana Bahagia saat mereka kembali ke tanah air.

Husnia menambahkan, saat melepas jemaah, ia tidak bisa membedakan satu sama lain karena kesan seragam yang mencolok dan membawa aura Islami. Ini menjadi simbol kebersamaan di antara jemaah yang kembali dari perjalanan suci mereka.

Sebagian besar jemaah mengungkapkan kebahagiaan mereka. Mereka merasa bangga dapat menyelesaikan ibadah haji dan merasakan kehangatan sambutan dari komunitas yang menunggu kedatangan mereka.

Persiapan Khusus Jemaah Haji Sebelum Berangkat

Kartini Kamaruddin Ramadan, salah satu jemaah haji, mengungkapkan cerita tentang persiapan busana bling-bling yang digunakannya. Ia telah menyiapkannya jauh-jauh hari sebelum keberangkatan ke Tanah Suci, khusus ditujukan untuk momen spesial ini.

“Pakaiannya sudah disiapkan sebelum berangkat, dan dijahit di sini,” kata Kartini, menggambarkan betapa pentingnya penampilan di momen bersejarah ini. Keberangkatan mereka ke Tanah Suci pun terasa lebih spesial dengan persiapan yang matang.

Jemaah tidak hanya memikirkan penampilan. Mereka juga membawa oleh-oleh untuk keluarga yang menanti di rumah, menunjukkan betapa perjalanan ini bukan hanya untuk diri sendiri tetapi juga untuk orang-orang terkasih.

Oleh-Oleh Menarik dari Makkah dan Madinah

Kartini juga berbagi pengalaman tentang oleh-oleh yang dibawanya dari Makkah. Antara lain, ia membawa kurma, air zamzam, cokelat, dan boneka unta yang menjadi favorit anak-anak. Boneka-boneka ini merupakan simbol dari pengalaman berharga yang mereka simpan dari Tanah Suci.

“Ada juga air zamzam dengan boneka unta. Saya membawa lima boneka untuk dibagikan,” ungkapnya, menambahkan bahwa oleh-oleh ini merupakan cara untuk menghadirkan pengalaman haji dalam bentuk yang bisa dibagikan kepada orang lain.

Ditambahkan, oleh-oleh dari Makkah memiliki makna mendalam, bukan sekadar barang biasa. Ini adalah simbol perjalanan spiritual yang membawa berkah dan harapan baik bagi keluarga.

Kesedihan di Balik Kebahagiaan Kembalinya Jemaah Haji

Namun, momen berbahagia ini juga dihiasi dengan rasa duka. Dari 393 jemaah haji kloter 5 asal Kabupaten Gowa, satu jemaah bernama Nursidah Sinrang Sijarrah (58) dilaporkan meninggal dunia di Madinah pada 26 April 2026. Kejadian ini menyiratkan bahwa perjalanan spiritual tidak selalu berjalan mulus.

Husnia menyatakan rasa duka mendalam bagi keluarga yang ditinggalkan. Kehilangan ini menjadi pengingat bahwa ibadah haji juga penuh dengan tantangan dan beratnya perjalanan yang harus dilalui.

Dalam suasana duka ini, Husnia menyerukan kepada semua jemaah untuk terus berdoa demi arwah Nursidah, sehingga perjalanan suci ini tidak hanya menjadi kenangan tetapi juga sebagai bentuk penghormatan kepada jemaah yang telah tiada.

Related posts