Ranking RI Ketiga Dunia Penyakit Hati Kronis, Menkes Sebut Pemicunya

Jakarta, Indonesia – Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin baru-baru ini mengungkapkan bahwa Indonesia menempati posisi ketiga dunia dalam jumlah penderita penyakit hati kronis, hanya setelah China dan India. Pernyataan ini disampaikan dalam rangka memperingati Hari Kesehatan Hati Sedunia yang mengambil tema “Kebiasaan Solid, Hati yang Kuat” di Jakarta.

Budi menyebutkan, penyakit hati kronis tetap menjadi ancaman kesehatan global dengan angka kematian sekitar 2 juta jiwa setiap tahun. Ia mengingatkan bahwa penyakit ini tidak selalu disebabkan oleh infeksi virus, tetapi juga dapat dimulai dari obesitas dan gangguan metabolik yang terus meningkat, termasuk di Indonesia.

“Di seluruh dunia, lebih dari 300 juta orang menderita penyakit hati kronis. Dengan hampir 4 orang meninggal setiap menit, realitas ini sangat mengkhawatirkan,” jelas Budi.

Ancaman Kesehatan Akibat Penyakit Hati Kronis di Indonesia

Budi menjelaskan bahwa lebih dari separuh kasus kematian akibat penyakit hati kronis disebabkan oleh infeksi virus hepatitis B dan C. Sementara itu, penyebab lainnya berkaitan dengan konsumsi alkohol serta gangguan metabolik seperti obesitas dan diabetes, yang angkanya semakin meningkat.

Di Indonesia sendiri, diperkirakan ada sekitar 70 juta penderita penyakit hati kronis, menjadikannya sebagai negara dengan angka tertinggi ketiga di dunia. “Angka ini sangat memprihatinkan dan perlu ditangani dengan serius,” tambahnya.

Kementerian Kesehatan telah meluncurkan berbagai kebijakan untuk menangani masalah ini, termasuk imunisasi hepatitis B bagi tenaga kesehatan dan program skrining hepatitis dalam program Cek Kesehatan Gratis (CKG). Pada tahun 2025, pemerintah berharap sekitar 70 juta orang telah menjalani skrining melalui program ini.

Upaya Pemerintah dalam Meningkatkan Kesehatan Hati Masyarakat

Tahun ini, pemerintah menargetkan jumlah pemeriksaan kesehatan meningkat menjadi 136 juta orang. Selain itu, ada kebijakan pelabelan kandungan nutrisi pada makanan untuk mengurangi konsumsi gula, garam, dan lemak yang menjadi faktor risiko penyakit hati dan penyakit kronis lainnya.

Budi menegaskan bahwa pendekatan promotif dan preventif jauh lebih efisien dibandingkan dengan pengobatan di tahap lanjut penyakit. “Penyakit hati memiliki prevalensi yang tinggi, sehingga langkah pencegahan menjadi sangat penting,” ujarnya.

“Dengan pendekatan yang lebih terarah, kita tidak hanya menghemat biaya, tetapi juga meningkatkan kualitas hidup masyarakat yang lebih baik,” lanjutnya.

Fungsi Vital Hati dalam Tubuh Manusia

Sementara itu, Guru Besar Ilmu Penyakit Dalam dan pakar hepatitis, Prof. Dr. dr. David Handojo Muljono, menjelaskan bahwa hati merupakan organ utama yang berfungsi untuk menjaga kehidupan. Hati berperan dalam berbagai fungsi penting, mulai dari detoksifikasi hingga mengatur metabolisme tubuh.

“Fungsi utama hati antara lain menyaring racun dari darah, mengolah obat-obatan, dan menetralisir alkohol. Ini menunjukkan betapa vitalnya organ ini bagi kesehatan manusia,” jelas Prof. David.

Di sisi lain, hati juga mengelola metabolisme dengan mengubah karbohidrat menjadi energi, menyimpan glikogen, serta mengatur metabolisme lemak dan protein. Ini adalah inti dari sistem yang menjaga keseimbangan energi tubuh kita.

Pencegahan dan Deteksi Dini Penyakit Hati

Prof. David menjelaskan bahwa penyakit hati kronis umumnya berkembang perlahan dan sering kali tidak menunjukkan gejala pada awalnya. Kerusakan hati biasanya dimulai dengan perlemakan atau peradangan. Jika tidak diatasi, kondisi ini dapat berlanjut menjadi fibrosis atau pembentukan jaringan parut.

Penghentian kerusakan pada tahap awal memiliki peluang yang lebih besar untuk pemulihan. Namun, setelah jaringan parut terbentuk secara signifikan, komplikasi serius seperti sirosis dapat terjadi.

“Pencegahan adalah kunci, di mana vaksinasi hepatitis A dan B, menjaga berat badan ideal, serta pola makan sehat dan olahraga sangat dianjurkan untuk mencegah penyakit hati,” tambahnya.

Deteksi dini juga sangat penting bagi mereka yang berisiko tinggi. Masyarakat disarankan untuk menjalani berbagai pemeriksaan seperti tes darah, tes fungsi hati, dan USG hati secara berkala untuk mendeteksi masalah kesehatan sebelumnya.

Pemerintah telah menetapkan langkah-langkah pengobatan yang sesuai berdasarkan penyebab penyakit, mulai dari terapi antivirus untuk hepatitis hingga penanganan obesitas yang dapat memicu perlemakan hati. Pada kasus yang lebih berat, terapi lebih lanjut seperti imunoterapi dan transplantasi hati mungkin diperlukan.

Related posts