Dalam upaya memperkuat ketahanan pangan nasional, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) berfokus pada diversifikasi pangan nonberas. Salah satu langkah konkrit yang diambil adalah melalui Pelatihan Alih Teknologi Mi Bebas Gluten Berbasis Sorgum yang diselenggarakan di Kawasan Sains di Subang.
Kegiatan ini melibatkan banyak pihak, termasuk periset dari berbagai pusat riset dan organisasi riset. Dengan kerja sama yang baik, diharapkan hasil dari pelatihan ini memberi kontribusi positif bagi industri pangan di Indonesia.
Dalam sambutannya, Kepala Pusat Riset Teknologi Proses (PRTP), Hens Saputra mengemukakan visi brilian untuk mewujudkan kemandirian pangan. Menurutnya, sumber pangan alternatif seperti sorgum bisa menjadi solusi untuk mengurangi ketergantungan pada jagung dan beras.
Urgensi Diversifikasi Pangan untuk Ketahanan Nasional
Eksplorasi sumber pangan alternatif merupakan langkah penting dalam menjaga ketahanan pangan di Indonesia. Ketergantungan pada satu jenis produk, seperti beras, dapat membahayakan ketersediaan pangan saat kondisi iklim tidak mendukung.
Sorgum, sebagai salah satu alternatif, menawarkan berbagai manfaat yang belum sepenuhnya dimanfaatkan. Tanaman ini tumbuh baik di berbagai kondisi, bahkan memiliki daya tahan terhadap cuaca ekstrem.
Oleh karena itu, penting bagi masyarakat untuk menyadari potensi sorgum sebagai sumber pangan yang sehat. Upaya memperkenalkan sorgum ke publik harus dilakukan dengan berbagai edukasi dan penyuluhan yang memadai.
Inovasi Teknologi dalam Pengembangan Sorgum
BRIN menjalin kemitraan dengan berbagai perusahaan untuk mendorong pengembangan teknologi terkait sorgum. Kerja sama tersebut bertujuan untuk menciptakan produk olahan yang inovatif dan dapat diterima masyarakat luas.
Salah satu yang mencolok adalah pengembangan mi nonterigu berbasis sorgum. Produk ini tidak hanya menawarkan alternatif yang lebih sehat, tetapi juga berpotensi membuka peluang bisnis baru bagi UMKM.
Dalam pelatihan tersebut, teknik ekstrusi menjadi salah satu fokus utama. Teknologi ini memungkinkan produksi mi bebas gluten yang kaya serat dan sangat baik untuk kesehatan, sehingga menjadi pilihan tepat bagi konsumen yang peduli pada pola makan sehat.
Peran Industri dalam Meningkatkan Kualitas Pangan
Industri pangan memiliki peran krusial dalam meningkatkan kemandirian pangan Indonesia. Melalui inovasi dan kerja sama dengan lembaga penelitian, diharapkan produk berbasis sorgum bisa lebih diterima di pasar.
PT Sedana Panen Sejahtera merupakan salah satu pihak yang berkomitmen dalam pengembangan teknologi ini. Dengan adanya dukungan dari BRIN, mereka dapat menciptakan berbagai produk inovatif yang meningkatkan nilai tambah sorgum.
Tidak hanya mi, produk lain seperti tepung dan gula berbasis sorgum juga turut dikembangkan. Hal ini menunjukkan adanya sinergi antara penelitian dan praktik industri yang dapat berkontribusi pada perekonomian lokal.
Ke depan, BRIN berharap semakin banyak produk berbasis sorgum yang bisa dipasarkan dan menarik perhatian masyarakat. Kesadaran akan pentingnya diversifikasi pangan harus terus ditingkatkan agar masyarakat dapat beralih ke sumber pangan yang lebih berkelanjutan.
Secara keseluruhan, keberhasilan ini bergantung pada kerja sama berbagai pemangku kepentingan. Dengan demikian, pengembangan dan penelitian mengenai sorgum bisa berjalan dengan baik dan memberi manfaat bagi masyarakat luas.
Akhirnya, dengan dukungan teknologi dan kolaborasi yang solid, diharapkan sorgum dapat menjadi salah satu pilar ketahanan pangan yang baru di Indonesia. Ini bukan hanya sekadar tentang makanan, tetapi juga tentang masa depan pangan nasional yang lebih berkelanjutan dan mandiri.
