Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Kota Bekasi, Kecamatan Mustika Jaya, baru-baru ini memberikan klarifikasi terkait video menu Program Makan Bergizi Gratis yang sempat viral di media sosial. Kepala SPPG, Ageng Wicaksono, menekankan bahwa informasi mengenai menu tersebut tidak mencerminkan realitas dan mengklarifikasi bahwa ada kesalahpahaman mengenai pengiriman menu.
Polemik bermula ketika pengiriman menu basah dan kering dilakukan secara bersamaan ke MI Nurul Anwar. Menu kering ini dituduh sebagai jatah untuk dua hari, padahal sebenarnya ditujukan hanya untuk satu hari konsumsi.
Ageng menjelaskan bahwa kesalahpahaman ini terjadi pada hari Kamis, di mana seharusnya tidak ada distribusi makanan. Akibatnya, paket untuk hari Sabtu dimajukan menjadi Kamis, sehingga menu basah tetap disampaikan di hari yang sama.
Klarifikasi dari Pihak SPPG Mengenai Video Viral
Menurut Ageng, pada hari tersebut disediakan menu yang cukup bergizi. Menu basah terdiri dari spageti dengan saus daging bolognese, tahu crispy, sayur sawi hijau, wortel, dan jeruk. Ia menekankan bahwa informasi yang beredar di media sosial tidak sesuai dengan apa yang terjadi di lapangan.
Pihak SPPG telah melakukan mediasi dengan Person in Charge untuk memastikan situasi dapat diselesaikan dengan baik. Hasil mediasi menunjukkan bahwa semua pihak memahami kesalahpahaman yang terjadi dan sepakat untuk berdamai.
Dalam keterangan resmi, Ageng mengatakan, “Situasi kini sudah kondusif dan aman, dan kami berkomitmen untuk meningkatkan sosialisasi kepada orang tua murid agar kejadian serupa tidak terulang.” Ini menjadi langkah penting dalam menjaga kepercayaan masyarakat terhadap program ini.
Pentingnya Sosialisasi dalam Program Makan Bergizi Gratis
Evaluasi terhadap Program Makan Bergizi Gratis juga menjadi bagian dari langkah perbaikan ke depan. Ageng menyatakan bahwa sejumlah poin terkait keberlanjutan program akan diteliti dan dicantumkan dalam rencana aksi yang lebih baik. Tujuannya adalah untuk memastikan bahwa anak-anak mendapatkan asupan gizi yang layak.
Di sisi lain, Azizah, sebagai PIC MI Nurul Anwar, menyampaikan permohonan maaf kepada SPPG atas kejadian yang tidak diinginkan ini. Ia menjelaskan bahwa unggahan video oleh wali murid menjadi pemicu kesalahpahaman yang meluas di media sosial.
“Kami menyesal atas ketidaknyamanan ini dan sudah melakukan komunikasi intensif dengan pihak terkait,” tambah Azizah. Ini menunjukkan bahwa ada upaya untuk mendidik masyarakat mengenai bagaimana informasi disampaikan.
Respon Wali Murid dan Tindakan Tanggung Jawab
Setelah mediasi, para wali murid yang sebelumnya mengunggah video juga melakukan klarifikasi ulang di platform media sosial. Mereka mengakui bahwa informasi yang disebarkan tidak akurat dan menyampaikan permintaan maaf. Hal ini menunjukkan kesadaran mereka terhadap dampak informasi yang salah.
Pihak SPPG, sebagai respons terhadap situasi tersebut, telah memberikan tambahan menu pengganti serta melakukan pemesanan baru. Ini bukan hanya tentang memenuhi kebutuhan gizi anak-anak, tetapi juga tentang menunjukkan komitmen untuk memperbaiki kesalahan yang telah terjadi.
Ageng menambahkan, “Kami berupaya untuk memastikan bahwa semua pihak mendapatkan informasi yang benar sekaligus menciptakan rasa percaya di antara pengelola program dan masyarakat.” Ini adalah langkah penting dalam membangun kepercayaan serta keterbukaan komunikasi.
