Sejumlah anggota keluarga tahanan yang terlibat dalam gelombang demonstrasi Agustus 2025 dari Jakarta Utara mengajukan aduan ke Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) pada Senin, 22 Desember. Mereka mengklaim adanya dugaan kriminalisasi yang dilakukan oleh aparat terhadap para tahanan tersebut, yang berjumlah sekitar enam puluh orang.
Para anggota keluarga tersebut bergabung dengan Gerakan Muda Lawan Kriminalisasi, meneruskan protes mereka dengan membawa simbolis berupa setangkai mawar merah. Aksi ini bertujuan untuk mengungkapkan rasa duka dan keprihatinan atas penangkapan tanpa dasar yang terjadi setelah demonstrasi yang berlangsung pada akhir Agustus lalu.
Mereka mengharapkan agar Komnas HAM segera menindaklanjuti laporan mereka, utamanya mengenai dugaan pelanggaran hak asasi manusia. Penangkapan ini dianggap sebagai tindakan sewenang-wenang yang merugikan banyak orang, termasuk keluarga para tahanan yang kini mengalami kesulitan ekonomi dan psikologis.
Simbol Perlawanan dan Harapan Keluarga Tahanan
Aksi simbolis dengan membawa bunga mawar merah membawa makna mendalam bagi para peserta. Perwakilan Gerakan Muda Lawan Kriminalisasi menegaskan bahwa simbol ini melambangkan perjuangan yang dilakukan oleh keluarga yang anggotanya kini terpenjara. Lebih lanjut, mereka berharap agar suara ibu-ibu yang membawa bunga mawar ini dapat menggugah perhatian publik terhadap permasalahan yang mereka hadapi.
Keluarga para tahanan juga mengungkapkan rasa keputusasaan dan kesedihan yang dirasakan akibat situasi yang sulit. Mereka menceritakan bagaimana kehidupan sehari-hari terganggu oleh penangkapan yang dianggap tidak adil, yang berlarut-larut tanpa kepastian. Berbagai kisah sedih datang dari mulut para anggota keluarga yang berjuang untuk keadilan.
Seperti yang diungkapkan oleh Nurianti, salah satu orang tua dari tahanan, ia merasa kelelahan dan tertekan menghadapi proses hukum yang tak kunjung rampung. Usahanya untuk mendapatkan keadilan dan kebebasan bagi anaknya seolah menjadi beban berat yang harus ditanggung setiap harinya.
Dampak Ekonomi dan Psikologis pada Keluarga
Sri Utami, salah satu istri tahanan, menuturkan tentang betapa beratnya beban yang harus ditanggungnya sebagai seorang ibu. Tanpa kehadiran suaminya yang merupakan tulang punggung keluarga, ia merasa kehilangan pegangan dalam mengurus anak-anak yang masih kecil. Ketidakpastian ekonomi semakin memperkeruh keadaan.
Keluarga para tahanan mengalami dampak yang luar biasa, baik secara emosional maupun finansial. Mereka harus menghadapi kenyataan pahit, di mana hilangnya penghasilan suami atau anak membuat mereka kesulitan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Hal ini tentu saja sangat berpengaruh terhadap kesehatan mental mereka.
Dalam konteks yang lebih luas, Gerakan Muda Lawan Kriminalisasi mendesak agar Komnas HAM melakukan investigasi independen. Mereka berpendapat bahwa banyak dari para tahanan dijerat dengan pasal-pasal yang konyol, yang membuat mereka merasa seperti menjadi korban dari praktik hukum yang tidak adil.
Keluhan Tentang Proses Penangkapan yang Tidak Profesional
Ketidakpuasan terhadap cara penangkapan juga disampaikan oleh para anggota keluarga. Mereka menganggap bahwa penangkapan yang dilakukan oleh aparat sangat tidak profesional dan terkesan sewenang-wenang. Banyak dari mereka yang disangka terlibat hanya karena berada di sekitar lokasi tanpa partisipasi dalam aksi demonstrasi.
Aksi penangkapan ini terjadi di saat situasi sudah tenang, dan hal ini menambah rasa tidak adil di hati para orang tua dan istri tahanan. Beberapa dari mereka bahkan tertangkap sekitar satu kilometer dari lokasi kejadian, yang menunjukkan adanya kesalahan dalam penegakan hukum ini.
Mereka percaya bahwa banyak dari kasus ini adalah kesalahan tangkap, dan berharap agar aparat penegak hukum bertanggung jawab atas tindakan mereka yang merugikan. Di tengah penangkapan yang membabi buta, keluarga para korban berjuang untuk mendapatkan penjelasan dan keadilan dalam proses hukum yang mereka anggap cacat.
Dugaan Kekerasan Terhadap Tahanan dan Reaksi Komnas HAM
Lebih dari sekadar dampak ekonomi, keluarga para tahanan juga mengungkapkan kekhawatiran terhadap kondisi fisik dan mental para tahanan. Beberapa dari mereka melaporkan bahwa para tahanan mengalami kekerasan fisik yang mengakibatkan cedera permanen. Di antara mereka ada yang bahkan harus menggunakan alat bantu untuk berjalan karena luka yang diderita.
Ketua Komnas HAM Anis Hidayah mengonfirmasi bahwa mereka menerima sejumlah pengaduan terkait dugaan penyiksaan yang terjadi selama proses penangkapan. Masyarakat merasa ada ketidakadilan dalam proses hukum yang berjalan dan berharap ada langkah nyata dari Komnas HAM untuk mempertahankan hak-hak mereka.
Seiring dengan pengaduan yang mengalir, Komnas HAM menyatakan sedang memproses laporan yang terkait dengan Tim Gabungan Pencari Fakta (TGPF) mengenai kerusuhan tersebut. Komnas berkomitmen untuk melakukan investigasi menyeluruh guna memastikan tidak ada hak asasi manusia yang dilanggar selama proses penangkapan dan hukum berlangsung.
