Ahli Terkejut Gunung Berapi Bangkit Lagi Setelah 700 Ribu Tahun Mati Suri

Sebuah gunung berapi di wilayah selatan Iran, yang selama ini dianggap tidak aktif, kini menunjukkan tanda-tanda kebangkitan. Gunung Taftan, yang diyakini tidak meletus selama lebih dari 710.000 tahun, menjadi obyek perhatian setelah penemuan terbaru yang menunjukkan adanya perubahan signifikan pada permukaannya.

Dalam jurnal Geophysical Research Letters yang diterbitkan pada 7 Oktober, penelitian mengungkapkan bahwa permukaan tanah di sekitar puncak Gunung Taftan terangkat sekitar 3,5 inci dalam rentang waktu 10 bulan. Peningkatan ini menandakan adanya tekanan gas yang meningkat di bawah permukaan gunung.

Pemantauan lebih lanjut menjadi kebutuhan mendesak setelah temuan ini, menurut pakar vulkanologi Pablo González. Dia menegaskan bahwa meski gunung berapi ini sebelumnya tidak dianggap berisiko bagi manusia, perubahan yang terjadi perlu diperhatikan secara lebih serius.

Meneliti Kebangkitan Gunung Berapi Taftan dengan Seksama

Gunung berapi dianggap punah jika tidak meletus dalam era Holosen, yang dimulai sekitar 11.700 tahun yang lalu. Namun, dengan adanya aktivitas terbaru, ada kemungkinan bahwa Taftan lebih tepat disebut sebagai gunung berapi dorman.

“Kami tidak bisa mengesampingkan kemungkinan letusan di masa depan,” ujar González, menyoroti ketidakpastian yang masih ada. Meskipun tidak ada alasan mendesak untuk panik, gunung berapi ini perlu diperhatikan dengan lebih teliti.

Gunung Taftan, dengan ketinggian 12.927 kaki (3.940 meter), terletak di tenggara Iran dan merupakan gunung stratovolkano yang dikelilingi oleh pegunungan. Tipe gunung berapi ini sering kali berhubungan dengan fenomena subduksi kerak samudra, di mana kerak Arab menyusup ke benua Eurasia.

Emisi Gas dan Aktivitas yang Mungkin Terkait dengan Nampaknya Taftan

Saat ini, gunung berapi ini memiliki sistem hidrotermal aktif serta fumarol—lubang-lubang penghasil gas sulfur yang berbau menyengat. Hingga saat ini, taftan tidak diketahui pernah meletus dalam sejarah manusia.

Selama studi awal, Mohammad Hossein Mohammadnia, mahasiswa doktoral di bawah bimbingan González, awalnya tidak menemukan tanda-tanda aktivitas. Namun, pada tahun 2023, laporan mengenai emisi gas dari Taftan mulai mengemuka di media sosial, bahkan tercium dari kota Khash yang berjarak sekitar 50 kilometer.

Pemantauan ulang melalui citra satelit menunjukkan adanya peningkatan permukaan yang signifikan. Sebuah fakta menarik, area tersebut tergolong terpencil dan tidak memiliki sistem pemantauan sekomprehensif gunung-gunung berapi lain, seperti Gunung St. Helen.

Analisis Geologi untuk Menyimpulkan Aktivitas Gunung Berapi

Peneliti menghitung bahwa pendorong kenaikan permukaan berada antara 490 hingga 630 meter di bawah tanah. Penting untuk dicatat bahwa tidak ada gempa bumi atau cuaca ekstrem yang terdeteksi di sekitar lokasi yang bisa menjelaskan perubahan ini.

Waduk magma yang berpotensi menjadi sumber letusan terdapat jauh di bawah permukaan. Namun, perubahan dalam pipa hidrotermal di bawah gunung berapi mungkin sedang berlangsung, menyebabkan penumpukan gas atau pergerakan magma yang dapat mempengaruhi tekanan di area sekitarnya.

Dengan demikian, penelitian berlanjut, dan González merencanakan kolaborasi dengan ilmuwan lainnya untuk memantau gas di gunung berapi ini. Penelitian ini bukan bertujuan menimbulkan kepanikan, namun lebih kepada seruan untuk meningkatkan kewaspadaan dan alokasi sumber daya untuk pemantauan yang lebih baik.

Kawasan sekitar Gunung Taftan menghadapi risiko lebih dari sekedar potensi letusan. Dengan adanya konflik perbatasan antara Iran dan Pakistan, dan masalah aktivitas kelompok pemberontak, keselamatan di daerah ini menjadi semakin kompleks. Oleh karena itu, pemahaman yang mendalam tentang kondisi geologi di Gunung Taftan sangat dibutuhkan untuk memprediksi dan memitigasi potensi bencana.

Langkah-langkah yang diambil oleh penelitian ini diharapkan dapat menjadi pedoman bagi pihak berwenang setempat dalam merespons situasi yang semakin dinamis. Peningkatan kesadaran akan keadaan gunung berapi ini adalah langkah awal menuju langkah-langkah mitigasi yang lebih efektif.

Setiap perubahan geologis, sekecil apapun, dapat berimplikasi besar bagi lingkungan sekitar. Oleh karena itu, perhatian yang lebih besar terhadap keadaan dan aktivitas gunung berapi ini akan membantu menjaga masyarakat yang tinggal di sekitar dari potensi risiko yang ada.

Related posts