Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan di Kabupaten Tangerang melaporkan bahwa banjir telah merusak 804 hektare lahan persawahan. Kejadian ini membawa dampak serius bagi para petani, di mana puluhan hektare di antaranya mengalami kegagalan panen akibat genangan air yang cukup parah.
Kepala Bidang Produksi Pangan dan Hortikultura DPKP Kabupaten Tangerang, Bambang, menjelaskan bahwa kerusakan tersebut terjadi antara bulan Desember 2025 dan Januari 2026. Keterpurukan lahan pertanian ini mempengaruhi keberlangsungan pendapatan para petani di daerah tersebut.
Selain itu, Bambang menegaskan bahwa beberapa desa di kawasan terdampak sangat rentan terhadap banjir. Dalam beberapa kesempatan, pihaknya telah melakukan peninjauan untuk memastikan langkah mitigasi yang tepat guna mengurangi dampak di masa mendatang.
Analisis Kerusakan Lahan Pertanian di Tangerang
Menurut data yang diperoleh, dari 804 hektare lahan yang terdampak, lebih dari 39 desa menjadi lokasi yang mengalami dampak signifikan dari bencana ini. Kejadian ini terjadi di 15 kecamatan, menggambarkan betapa luasnya area yang terpengaruh.
Tidak hanya lahan, banyak petani yang kini terpaksa berjuang melawan kerugian finansial akibat gagal panen. Desa Carenang di Kecamatan Cisoka menjadi salah satu daerah dengan kerugian terbesar, mencapai 107 hektare yang terkena dampak.
Varietas padi seperti inpari, ciherang, dan mekongga yang biasa ditanam di daerah tersebut juga ikut terancam. Hal ini menunjukkan bahwa kondisi cuaca ekstrem dapat mempengaruhi produktivitas pertanian secara signifikan dan berkelanjutan.
Langkah Mitigasi dan Pemulihan Setelah Banjir
Pemerintah daerah telah mulai melakukan evaluasi untuk menentukan langkah-langkah mitigasi terhadap bencana serupa di masa yang akan datang. Upaya ini bertujuan untuk meningkatkan daya tahan lahan pertanian terhadap bencana alam.
Salah satu langkah konkrit yang direncanakan adalah penanaman sistem drainase yang lebih baik. Dengan demikian, genangan air dapat diminimalisir dan dampaknya terhadap pertanian dapat dikendalikan.
Selain itu, pelatihan dan informasi tentang teknik pertanian yang tahan terhadap bencana juga akan diberikan kepada petani. Ini adalah bagian dari upaya meningkatkan ketahanan pangan di daerah yang rawan bencana seperti Kabupaten Tangerang.
Dampak Ekonomi dan Sosial bagi Petani Lokal
Banjir tidak hanya menghancurkan lahan pertanian, tetapi juga memberikan dampak ekonomi yang mendalam. Petani yang mengalami gagal panen kini harus mengandalkan bantuan dari pemerintah dan lembaga sosial untuk bertahan.
Aspek sosial juga terpengaruh, seperti perubahan dalam pola kehidupan masyarakat. Keluarga-keluarga petani yang terdampak kini menghadapi ketidakpastian dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari mereka.
Dengan demikian, penting bagi pemerintah untuk menyusun program pemulihan yang menyeluruh. Hal ini meliputi bantuan langsung tunai, pemulihan lahan, dan pemberian alat pertanian yang diperlukan untuk kembali berproduksi.
