Al Ressa Rizky Rossano, pemuda asal Banyuwangi yang mengaku sebagai anak kandung penyanyi Denada, membantah tuduhan bahwa ia memanfaatkan popularitas sang artis untuk kepentingan pribadi. Ia menegaskan bahwa selama ini hidup mandiri tanpa bantuan finansial dari Denada. Memiliki latar belakang yang penuh perjuangan, Ressa berupaya keras untuk memenuhi kebutuhan hidupnya sendiri dengan berbagai jenis pekerjaan. Ia percaya bahwa setiap orang harus berjuang untuk mencapai impian mereka tanpa bergantung pada orang lain.
Ressa menjelaskan bahwa sejak menyelesaikan pendidikan SMA, ia tidak pernah ingin menjadi seorang peminta-minta. Dalam upaya untuk mandiri, ia telah melalui berbagai pengalaman kerja, mulai dari menjaga toko, menjadi ojek online, hingga menjadi sopir pribadi. Setiap pengalaman yang ia jalani membuka mata dan pikirannya tentang kehidupan, sehingga ia tumbuh menjadi pribadi yang tangguh.
Di tengah perjalanan hidupnya, Ressa juga memiliki kenangan bersama orang-orang yang merawatnya. Ia mengenang betapa perhatian dan kasih sayang yang diberikan oleh mereka menjadi pendorong semangat untuk terus berjuang. Kini, ia merasa bahwa inilah waktunya untuk memperjuangkan kebenaran tentang identitasnya.
Pengakuan Ressa dan Hubungannya dengan Denada
Ressa mengaku tidak pernah menerima bantuan dari Denada. Ia menjelaskan bahwa semua pengeluaran dan kebutuhan hidupnya selama ini ditanggung oleh orang tua angkatnya, yang ia panggil papa dan mama. Belum pernah merasakan kebersamaan yang intim dengan Denada, ia hanya mengenal penyanyi tersebut sebagai kakak sepupunya.
Dalam sebuah pernyataan, Ressa menegaskan, “Setahu saya, saya tidak pernah menerima apa pun dari Mbak Denada.” Melalui pengakuan ini, ia ingin menghilangkan stigma sebagai seseorang yang memanfaatkan nama besar untuk kepentingan pribadi. Menurutnya, hidup dalam bayang-bayang orang terkenal bukanlah hal yang ingin ia jalani.
Dia juga membagikan pengalaman pahitnya saat tak mengetahui identitas ibu kandungnya. Ressa baru mengetahui bahwa Denada adalah ibunya setelah meninggalnya Emilia Contessa, sosok yang selama ini merawatnya. Meskipun kenyataan ini sungguh mengejutkan, Ressa tetap berkomitmen untuk menjalani hidup dengan cara yang positif.
Pekerjaan yang Dijalaninya untuk Bertahan Hidup
Di luar pengakuannya sebagai anak biologis Denada, Ressa juga berbagi cerita tentang berbagai pekerjaan yang pernah digelutinya. Salah satu momen berharga dalam kehidupannya adalah ketika ia bekerja sebagai sopir pribadi Emilia Contessa dengan gaji yang cukup untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari. Pengalaman tersebut memberi pelajaran berharga dan jaringan yang berguna di masa depan.
Ia terpaksa beralih ke berbagai pekerjaan karena keterbatasan ekonomi yang dihadapi. Sejak kecil, Ressa belajar untuk mandiri dan tidak berharap banyak kepada orang lain. Bahkan, ketika ditawari untuk kuliah, ia harus menolak kesempatan itu karena keterbatasan dana. Keputusannya untuk berhenti kuliah di semester empat tidak membuatnya putus asa, melainkan semakin memperkuat tekadnya untuk berjuang.
Meskipun hidup di gudang belakang rumah Denada, ia tetap betah dengan kondisi tersebut. “Akhirnya saya tinggal di Gajahmada, di gudang belakang yang dijadikan kamar,” ujarnya. Ressa berusaha keras untuk mengakhiri kebisingan dalam kehidupannya dan fokus pada tujuan yang lebih besar.
Awal Mula Gugatan Hukum yang Diajukan Ressa
Ressa menarik perhatian publik setelah mengajukan gugatan terhadap Denada di Pengadilan Negeri Banyuwangi. Dalam gugatannya, Ressa meminta pengakuan sebagai anak biologis serta meminta keadilan atas dugaan penelantaran selama 24 tahun. Tindakan ini menunjukkan keberanian Ressa untuk memperjuangkan haknya.
Gugatan tersebut bukan hanya sekadar untuk kepentingan pribadi, tetapi lebih pada keinginannya untuk mendapatkan pengakuan yang sah. Ressa berharap Denada dapat bersikap kooperatif dan menyelesaikan persoalan ini dengan cara yang lebih kekeluargaan. Harapannya adalah agar semua pihak dapat berkomunikasi dengan baik demi menghilangkan kesedarahan dalam hubungan keluarga.
Namun, kuasa hukum Denada, Muhammad Ikbal, menilai gugatan tersebut tidak pada jalurnya. Menurutnya, persoalan hak anak seharusnya diselesaikan di Pengadilan Agama, bukan di Pengadilan Negeri. Ia juga mempertanyakan alasan mengapa Ressa mengajukan gugatan di usia 24 tahun, saat ia seharusnya sudah mampu mengambil keputusan secara mandiri.
Menanti Tindakan Selanjutnya dari Denada
Seiring berjalannya waktu, pihak Denada sampai saat ini masih menunggu respon dari artis tersebut mengenai gugatan yang diajukan Ressa. Sikap Denada sangat dinanti-nanti, karena ini bisa menjadi awal mula penyelesaian sengketa yang telah berlangsung lama. Ressa berpendapat, pengakuan akan meringankan beban psikis yang selama ini ia rasakan.
Dalam situasi ini, sangat penting bagi kedua belah pihak untuk bersikap terbuka dan membahas permasalahan yang ada. Ressa berharap bahwa pertemuan dapat dilakukan untuk menjalin komunikasi yang lebih baik demi kepentingan bersama. Dengan jalan dialog, ia yakin banyak hal bisa diselesaikan tanpa harus melibatkan meja hijau.
Dengan berani menghadapi tantangan yang ada, Ressa tak hanya berfokus pada pengakuan, tetapi juga ingin memberikan pesan kepada masyarakat bahwa setiap orang memiliki hak untuk dikenal dan diakui. Harapannya adalah agar semua orang bisa belajar untuk menghargai hubungan keluarga, kendati dalam kondisi yang sulit. Ressa ingin menunjukkan bahwa meskipun sulit, hidup selalu memberikan kesempatan untuk memperbaiki diri dan menemukan jalan ke depan.
