Zoe Saldaña, aktris yang dikenal luas karena perannya dalam franchise Avatar, baru-baru ini mendapat sorotan tajam dari netizen dan penggemar. Dalam sebuah wawancara, ia menyebut karakternya, Neytiri, sebagai sosok yang rasis, sebuah pernyataan yang memicu perdebatan sengit di kalangan penggemarnya.
Wawancara tersebut digelar dalam rangka promosi film terbarunya, Avatar: Fire and Ash. Saldaña berbagi pandangannya tentang karakter Neytiri dan konflik yang dihadapi dalam cerita.
Protes Dari Penggemar Setelah Pernyataan Kontroversial
Dalam wawancaranya, Zoe Saldaña menyatakan, “Mari kita akui, Neytiri adalah seorang rasis.” Ungkapan ini mengundang banyak reaksi negatif dari fans yang merasa tidak setuju dengan pandangannya. Sebagian dari mereka berpendapat bahwa kebencian Neytiri terhadap manusia tidak bisa dikategorikan sebagai rasisme.
Pernyataan tersebut berlanjut ketika Saldaña menjelaskan, “Neytiri kehilangan pandangan terhadap orang-orang yang paling dia cintai.” Dia mengacu pada suaminya, Jake Sully, yang merupakan manusia. Banyak penggemar merasakan bahwa ini adalah distorsi dari karakter Neytiri yang sebenarnya.
Sikap dan tindakan Neytiri, dalam pandangan beberapa penggemar, merupakan reaksi terhadap kolonialisme dan penyerangan terhadap planet mereka. Argumen ini mengarah pada pemahaman yang lebih mendalam tentang konflik batin yang dialami Naytiri.
Bagi mereka, menganggap Neytiri sebagai rasis berarti mengabaikan konteks penting di balik reaksi emosionalnya. Ini menunjukkan bahwa penggemar memiliki kedalaman saat memahami nuansa dalam karakter dan situasi yang dihadapi oleh Neytiri selama cerita berlangsung.
Kesal dengan kritik terhadap karakter mereka, banyak penggemar membela Neytiri. Mereka berpendapat bahwa pengalamannya yang traumatis membuatnya bukan hanya sekadar karakter yang penuh benci, melainkan sebagai sosok yang berjuang untuk melindungi rumah dan keluarga.
Karakter Neytiri Dalam Lanskap Cerita Avatar
Neytiri, yang diperankan oleh Zoe Saldaña, adalah pusat konflik emosional dalam kisah Avatar. Dari film pertama hingga sekuel, kisahnya mencerminkan perjuangan dan ketahanan melawan penindasan. Karakternya tidak hanya berfungsi sebagai pejuang tetapi juga sebagai simbol dari harapan bagi suku Na’vi.
Dalam film Avatar: The Way of Water, Neytiri menunjukkan berbagai emosi yang mendalam yang menggambarkan kedalaman jiwa seorang pejuang. Rasa sakit yang dia alami saat kehilangan anaknya menjadi titik essentiel yang menjelaskan tindakan dan perilakunya. Ini menambah dimensi pada karakter yang mungkin dibaca secara sepihak.
Penggemar juga sering berdiskusi bahwa tindakan Neytiri adalah bentuk ketidakpuasan terhadap penjajahan dan perusakan habitat. Ini menunjukkan bagaimana film bisa lebih dari sekedar hiburan; mereka mempunyai kemampuan untuk membawa pesan tentang keadilan dan perjuangan melawan penindasan.
Konflik batin Neytiri saat berhadapan dengan manusia menyebabkan kedalaman narasi yang lebih signifikan. Ini adalah representasi dari pertarungan yang lebih besar, antara lingkungan dan eksploitasi, antara budaya yang menghormati alam versus yang menilai sumber daya sebagai alat untuk keuntungan. Dengan latar belakang ini, penggambaran karakter Neytiri menjadi lebih kompleks.
Ketegangan yang ada antara dia dan manusia sangat mengingatkan pada banyak isu nyata yang dihadapi di dunia saat ini, menjadikan karakter Neytiri tidak hanya relevan tetapi juga relatable bagi penonton.
Reaksi Campur Terhadap Penyataan Zoe Saldaña
Walaupun banyak yang menolak pandangan Zoe Saldaña, ada juga penggemar yang mendukungnya. Mereka berargumentasi bahwa aktris tersebut memiliki pemahaman mendalam tentang karakter tersebut setelah lebih dari satu dekade memerankannya. Beberapa menganggap bahwa penilaiannya tentang Neytiri adalah valid, melihatnya sebagai buah pemikiran yang matang.
Pendukung Saldaña juga menekankan bahwa dia memahami dinamika karakter dari perspektif yang mungkin tidak dilihat oleh penonton biasa. Keterlibatannya yang lama dengan karakter ini memberi Saldaña kredibilitas untuk membahas aspek-aspek psikologis yang lebih mendalam.
Namun, perdebatan ini tidak terhindarkan. Terlebih lagi, saat penggemar membela Neytiri sebagai refleksi dari ketidakadilan yang dialami oleh suku-suku terjajah di dunia nyata, terciptalah perdebatan yang substansial seputar rasisme, kolonialisme, dan cara karakter tersebut ditafsirkan.
Partisipasi aktif penggemar dalam mendiskusikan isu-isu ini menunjukkan bahwa mereka tidak hanya melihat film sebagai sarana hiburan, tetapi juga sebagai medium untuk memahami isu-isu sosial dan kemanusiaan. Ini memberikan bobot tersendiri untuk argumen yang berkembang seputar karakter Neytiri.
Kemampuan film untuk membangkitkan diskusi mendalam tentang isu-isu kontemporer ini menunjukkan bahwa transcendensi yang dimiliki oleh karakter-karakter di Avatar. Hal ini menjadi contoh kekuatan narasi dalam seni dan bagaimana pengaruhnya mampu menyentuh kehidupan nyata banyak orang.
